Indonesia Rajai Ekonomi Digital Asia Tenggara pada 2025

Thursday, 25 August 2016 - 12:38

JAKARTA – Indonesia diperkirakan baru menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2025 mendatang.

Menurut Kepala Industri Google Indonesia Henky Pryatna Indonesia memiliki kekuatan di bidang penetrasi internet, tetapi  untuk ekonomi  digital   masih sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan Tiongkok dan India.

“Indonesia kini, menurut dia, telah memiliki 100 juta pengguna internet. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia pada nomor lima terbesar di dunia,” katanya   dalam seminar wining the digital war yang digelar IndonesiaX, kemarin.

Dikatakannya, pengembangan broadband dan penetrasi perangkat mobile (selular phone) akan membantu percepatan pengguna internet di Indonesia.

“Indonesia menghadapi tantangan dari sisi geografis   dengan ribuan pulau besar dan kecil yang tersebar. Hal ini tentu saja menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan dibandingkan dengan negara-negara continental (daratan). Sebagai negara kepulauan isu logistik di digital ekonomi itu penting,” katanya.

Diharapkannya dengan adanya upaya pemerintah dalam membangun infarstruktur broadband internet melalui proyek Palapa ring bisa mendorong infrastruktur broadband.

Sementara Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Iwan Jaya Azis mengatakan hingga saat ini kontribusi ekonomi digital maupun teknologi digital bagi perekonomian secara keseluruhan belum tampak.

Menurut Iwan, bila teknologi digital atau digital ekonomi memiliki kontribusi terhadap perekonomian, maka seharusnya jumlah barang dan jasa maupun produktifitas meningkat.

Namun pada kenyataannya produktivitas justru menurun seiring dengan perkembangan teknologi digital, meski ada keuntungan yang dirasakan perusahaan maupun industri tertentu.

"Ada kemungkinan, walau bisa saja saya salah, digital ekonomi, digital teknologi oversold atau overdamped, realitinya belum, jadi realitinya tidak secepat yang kita dengar dan kita baca, karena evidencenya (buktinya) tidak saya lihat," katanya.

Ia mengatakan, transformasi ekonomi digital juga belum diikuti oleh perubahan pola pemikiran (mindset) secara luas. Dalam ekonomi digital, bisnis model lama yang mengamsumsikan lingkungan tertutup (closed) dan stabil (stable) tidak dapat lagi bertahan. Lingkungan menjadi dinamis, terbuka (open) dan tidak stabil (unstable).

Dikatakannya,   perubahan pola pikir tersebut harus disebarkan secara luas. Pendidikan   merupakan salah satu hal yang dapat dilakukan untuk membantu mengubah pola pikir.

Selain itu, desain kebijakan yang tepat bagi masyarakat juga dibutuhkan. “Selama satu dekade lembaga internasional berupaya mengurangi kemiskinan melalui bantuan tunai dengan menggunakan data digital satelit di sejumlah wilayah Afrika seperti Mali dan Kenya. Hasilnya justru gagal,” ingatnya.

Sebelumnya, pemerintah memprediksi Indonesia akan menjadi energy bagi ekonomi digital Asia pada 2020 mendatang. Sejumlah aksi strategis pun telah disiapkan seperti membuat roadmap eCommerce atau mencetak seribu startup.

(***)

Sumber: Indotelko.com